Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » OBYEK WISATA » BENA, Obyek Wisata Yang Mempesona Hati. Why Not??

BENA, Obyek Wisata Yang Mempesona Hati. Why Not??

(58 Views) September 3, 2017 10:04 am | Published by | Komentar Dinonaktifkan pada BENA, Obyek Wisata Yang Mempesona Hati. Why Not??

“Aku Terpesona saat menyaksikan keindahan alam di Kampung Tradisional Bena.  Pingin terulang kembali di suatu hari.”         

 

Future by Elpo

 DUTAKITA.comBerangkat dari Bajawa Hari Senin tanggal 15 Agustus 2017, terpahat sebuah kenangan  yang mungkin tak pernah hilang ditelan waktu dan zaman ini. Pagi itu DUTAKITA berkesempatan bersama-sama dengan rombongan pengayuh sepeda dalam event  KOMPAS JELAJAH SEPEDA FLORES. DUTAKITA memang bukan peserta pengayuh sepeda itu, tapi kebetulan hanya senang untuk mengambil gambar apalagi mendapatkan moment yang langka dan unik itu.

Kami berangkat dari Kota Dingin Bajawa, dari Hotel Edelweis  menuju Kampung Bena. Perjalanan yang santai sambil menikmati keindahan alam sepanjang jalan. Ada pepohonan kopi arabika, (kopi khas dari Ngada). di lahan kintal masyarakat ditanami sayur-sayuran, walaupun musim panas tetapi hawa sejuk bahkan menurut sopir, Anis  bahwa daerah ini selalu diguyur hujan walaupun di musim kemarau. Di sepanjang jalan ini kami juga menemui banyak kendaraan warga setempat yang hilir mudik. Ternyata bahwa tidak jauh dari Kampung Bena ada Kantor Kecamatan Jerebuu. Banyak PNS yang tingga di Bajawa, yang bekerja di sana. Masyarakat setempat juga berangkat ke Kota untuk berdagangan sayur, kopi dan hasil bumi mereka.

Lima menit pertama kami tiba di wilayah Desa Borani. Sesekali kami melihat warga yang  sambil tersenyum melambaikan tangan dari depan rumah mereka, tanda persahabatan yang kental. Kami memang dalam rombongan dengan kendaraan yang diberi stiker Kompas Jelajah Sepeda Flores. Jumlah kami + 50 orang. Lima menit berikutnya kami sudah diantar melintasi wilayah Langa. Turun sedikit  dari Langa, kami melintasi hutan bambu yang cukup lebat berjejer seakan memberi jalan, merestui perjalanan kami menuju Kampung Bena.

Lima menit selanjutnya kami sudah tiba di Desa Beja. Kampung ini indah. Rumah penduduk berbaris rapi di sepanjang jalan.  Melewati perkampungan ini kami melintasi jalan yang di samping kiri kanannya ditumbuhi pohon kaliandra, seakan mengawal perjalanan kami. Tidak lama kemudian kami tiba di Desa Tiwuriwu 2 sebuah desa pemekaran dari Desa Tiwuriwu. Desa Tiwu Riwu adalah desa dimana Kampun Bena berada.  Seluruh waktu yang kami gunakan hingga tiba di Kampung Bena hanya + 20 menit tergantung kecepatan kendaraan. Jalan menuju Kampung Bena hotmix dan selalu menurun.

 

Tiba di Kampung BenaSetelah  menghabisi waktu perjalanan  selama +20 menit tibalah kami di Desa Tiwuriwu. Menurun lagi sekitar 50 m kemudian persiss di sebuah belokan kecil kami menatap gerbang Kampung Bena. Semua menatap dari kejauhan, terpesona. Betapa indahnya. Beberapa menit kemudian sopir berhenti. Kami semua turun dan langsung menuju TKP. (hahah, bercanda).  Setelah  berjalan kaki sekitar 100 m kami tiba di pintu masuk kampung. Di sini ada sebuah bangunan rumah. Di dalam rumah ini terdapat foto-foto dan gambar tentang Kampung Bena. Sayangnya kami tidak ada data deskripsi tentang kampung ini. Kami diterima dua orang ibu. Mereka mengalungi kami kain selendang. Kain selendang itu sebagai simbol bahwa kami adalah pengunjung dan diterima dengan penuh persahabatan. Tapi ingat, setelah berkunjung dan hendak pulang kain selendang tadi harus dikembalikan kepada mereka karena akan diberikan lagi kepada pengunjung berikutnya.  Kami adalah pengunjung pertama di hari itu. Peserta yang lainnya masih menunggu giliran pengalungan  selendang. Tapi yang sudah selesai langsung menuju tengah kampung.  Kami tersebar semuanya namun dalam bentuk kelompok-kelompok secara spontan. Warta setempat menerima kami dengan antusias dan penuh ramah. Terlihat dari tutur kata mereka. Berbahasa Indonesia yang lancar. Senyum, sapa sambil menjawab pertanyaan peserta. Ada yang menggendong anak, cucu di  teras rumahnya sambil senyum. Ada ibu-ibu yang sedang menenun kain adat. Di depan rumah terbentang kain-kain adat khas mereka, dijual kepada pengunjung.  Harganya bervariasi. Mulai dari Rp300.000 tergantung jenis, ukuran dan motif. Bahan pewarnanya  bisa dari bahan ramuan lokal dan juga dari bahan jadi dari toko. Kain  adat dari sini bisa dibuat selendang, selempang bahkan untuk menjahi baju dan jas sesuai kebutuhan kita.

 

Ada bapak-bapak yang sedang mengerjakan sarung dan parang khas Bajawa dengan  bentuk gagang pendek dengan isi parang yang panjang hingga 75cm. Bisa dibeli di sini dengan harga minimal 1 juta  rupiah.

Di tengah kampung ini terdapat batu-batu megalit yang ada sejak kampung ini dibangun. Batu ini disebut Nabe.  Dan inilah yang menjadi ciri khas dari Kampung Bena. Kampung Bena adalah  Perkampungan megalitikum. Terdapat batu-batu besar atau Nabe  yang tersusun rapi bahkan ada yang selebar papan tipleks. Terpahat rapi, tertata apik sebagai tempat pemujaan kepada dewa. Menurut tutur warga setempat bahwa ada waktu-waktu tertentu masyarakat berkumpul untuk melakukan ritual adat untuk berkomunikasi dengan lelulur mereka.  Leluhur mereka dikubur di bawah  tataan megalit, nabe  ini. Dan mereka sangat meyakini bahwa  dari  para leluhur ini akan memberikan “sesuatu”  kepada mereka sesuai kebutuhannya. Di samping itu, di atas batu-batu ini biasanya diletakan sesajian untuk para leluhur mereka. Di atas batu-batu ini juga biasanya sebagai tempat bagi para tetua adat setempat menyelesaikan persoalan sosial yang dialami dalam kampung. Selain batu-batu  itu  terdapat beberapa bangunan yang mereka menyebutnya bhaga  dan ngadhu. Bangunan bhaga bentuknya mirip pondokkecil (tanpa penghuni). Sementara ngadhu berupa bangunan bertiang tunggal dan beratap serat ijukhingga bentuknya mirip pondok peneduh. Tiang ngadhu biasa dari jenis kayu khusus dan keras karena sekaligus berfungsi sebagai tiang gantunganhewan kurban ketika pesta adat Ngadhu dan bhaga adalah dua simbol leluhur kampung yang berada di halaman, kisanatapat, tempat upacara adat digelar untuk berkomunikasi dengan leluhur mereka. Ngadhu berarti simbol nenek moyang laki-laki dan bentuknya menyerupai sebuah payung. Sedangkan bhaga berati symbol nenek moyang perempuan yang bentuknya menyerupai bentuk miniatur rumah.

 

Bukan hanya itu, lihatlah di  setiap sudut rumah-rumah warga di sini. kita bisa bercak kagum dengan tengkorak-tengkorak sapi, kerbau dan babi. Semuanya digantung, disusun berbaris rapi haingga mencapai puluhan buah. Apa maksudnya? Selain sebagai ikon status sosial dari pemilik rumah pokok atau sao ini merupakan catatan keluarga dalam rumah. Dimana setiap kali ada hajatan keluarga pasti ada keluarga lain yang datang memberi kepada  dalam bentuk hewan. Setelah hewan ini dipotong bagian tulang rahangnya atau tengkorak dan tanduknya harus disimpan sebagai bukti. Apabila keluarga yang membawa hewan tadi punya hajatan maka keluarga yang telah menerima bantuan dalam bentuk hewan tadi menggantikannya sesuai ukuran dan jenis yang dibawa sebelumnya. Pada saat “tebusan” hewan ini baru bagian tulang rahang maupun tengkotak hewan yang dipasang di rumah tadi diturunkan. Inilah kearifan lokal warga setempat.

Pada bagian selatan dari Kampung Bena sebuah  gua patung Maria. Warga setempat semuanya beragama Katolik. Sebagai tanda dukungan iman kepada warga setempat, tim Kompas Jelajah Sepeda Flores  menyerahkan 100 buah kontas kepada warga setempat.

Menurut tutur warga bahwa Kampung Bena sudah ada sejak 1200 tahun yang lalu. Bentuk kampung Bena menyerupai perahu karena menurut kepercayaan megalit perahu dianggap punya kaitan dengan wahana bagi arwah yang menuju ke tempat tinggalnya. Namun nilai yang tercermin dari perahu ini adalah sifat kerjasama dan gotong  royong  dan mengisyaratkan kerja keras  yang dicontohkan dari leluhur  mereka dalam menaklukkan alam mengarungi lautan sampai tiba di Bena. Di Bena terdapat sembilan suku yang menghuni 45 rumah. Kesembilan suku itu adalah suku Dizi, suku Dizi Azi, suku Wahto, suku Deru Lalulewa, suku Deru Solamae, suku Ngada, suku Khopa, dan suku Ago. Yang membedakan satu suku dengan suku lainnya adalah tingkatannya sebanyak 9 tingkat. Tiap suku berada di satu tingkatan, suku Bena sendiri berada di tengah dan dianggap suku paling tua dan pendiri kampung dan karena itulah nama kampung ini kampung Bena.

Kampung Bena dan Gunung Inerie- Sejenak kita mengangkat kepala dan menatap ke Bagian Barat dari Kampung Bena kita disuguhi sebuah pemandangan yang menakjubkan yakni keperkasaan Gunung Inerie dengan ketinggian 2.245 meter di atas permukaan laut. Gunung Inerie bak piramida  yang mempesona. Kampung Bena terletak persis di kaki gunung ini. Beruntunglah bahwa hari itu cerah sehingga kami bisa menikmati keindahan Gunung Inerie    dari sisi Kampung Bena secara sempurna.  Seorang warga mengatakan bahwa ada hubungan erat antara Kampung Bena dan Gunung Inerie.  Masyarakat di kampung ini meyakin bahwa di atas Gunung Inerie adalah tempat singgahsana dewa zeta. Dewa ini diyakini sebagai pelindung bagi warga setempat.

Tak terasa sudah, waktu untuk menikmati pesona alam di Kamppung Bena dan eksploitasi rahasia alam di rahim Kampung Bena pun selesai  karena panitia, EO dari  Harian Umum Kompas telah meniup pluit tanda berakhirnya waktu kunjungan. Jam di tanganku menunjukan pukul 12.00 namun tidak merasa lapar karena kenyang dengan kekaguman view  dan  eksploitasi informasi dari warga.  Kapan-kapan lagi akan kembali kesini. Sayonara Kampung Bena!!!!

 

 

 

 

 

 

 

This post was written by dutakita
About

DUTAKITA Hadir sebagai manivestasi dari eksistensi diri. Didorong oleh adanya tanggung jawab untuk menjadi duta dalam segala aspek kehidupan termasuk di dalamnya adalah duta dalam menyediakan indormasi kepada publik. Bahwa kehadiran DUTAKITA di tengah kehidupan banyak orang kiranya mercusuar yang menunjukan jalan bagi banyak orang. Untuk itu, sebagaimana komitmennya, DUTAKITA akan menjadi wahana berekspresi, berimajinasi, motivasi dan berkreasi untuk mempertahankan eksistensi diri di tengah kebutuhan akan informasi.

Tags:
Categorised in:

Comment Closed: BENA, Obyek Wisata Yang Mempesona Hati. Why Not??

Sorry, comment are closed for this post.